
| Tentang Timnas | 0 |
Lionel Messi-Zinedine Zidane
REPUBLIKA.CO.ID,Di sebuah gang sempit di La Castellane, pinggiran Kota Marseille, Prancis, anak kecil itu terlihat berlari dengan riang gembira saat memainkan bola. Bersama teman-temannya, ia menandai gawang dengan batu atau baju. Mereka tak peduli berapa gol yang akan dicetak yang penting gembira dan tertawa lepas.
Keceriaan saat bermain bola juga diperlihatkan seorang anak kecil lain di jalanan Rosario, Argentina. Meski sejak bayi didiagnosis menderita kekurangan hormon pertumbuhan, anak kecil itu tak peduli.
Pun saat dinyatakan postur tubuhnya kurang cocok untuk bermain bola. Anak buruh pabrik itu tak hiraukan, yang penting menendang bola dan gembira. Ia tak ambil pusing soal hitung-hitungan apakah layak menjadi pemain bola atau tidak.
Berbekal kegembiraan bermain bola di waktu kecil, kedua anak itu kelak menjelma menjadi pesepak bola terbaik di zamannya. Anak kecil di La Castellane itu adalah Zinedine Zidane, sedangkan yang ada di Rosario itu adalah Lionel Messi.
Sepak bola memang selalu memberi keceriaan dan kegembiraan, bahkan bagi seorang anak balita sekalipun. Tapi orang-orang yang mengaku ‘dewasa’ telah meletakkan sepak bola sebatas ambisi, jumlah gol, statistik, dan formasi permainan.
Sepak bola pun kehilangan pesonanya, penuh tekanan, kian matematik dan materialistik. Sepak bola yang gembira menjelma hanya sekadar angka.
Ini pula yang terjadi saat timnas Indonesia tampil di ajang Piala AFF 2010. Awalnya, semua adalah kegembiraan. Keceriaan bersama. Firman Utina kerap tersenyum di lapangan hijau. Oktovianus Maniani menari-nari usai mencetak gol. Demikian pula Irfan Bachdim dan Arif Suyono.
Masyarakat Indonesia turut dalam tarian bersama. Kegembiraan bersama. Mereka gembira karena timnas telah menyuguhkan permainan yang atraktif nan indah yang sudah lama menghilang. Lolosnya Indonesia ke laga final pun menjadi efek dari ‘kegembiraan’ para pemain timnas saat memainkan bola.
Seluruh eleman masyarakat dari petinggi negara hingga rakyat jelata lantas bisa berkomunikasi tanpa jeda dalam bahasa yang sama, bahasa bola. Tak ada sekat di antara mereka. Ribuan bahkan jutaan orang di pinggir-pinggir jalan, di jejaring sosial maya, di kantor-kantor, bahkan di istana negara, menjelma menjadi komentator bola.
Tapi, kegembiraan itu terasa dicerabut dari akarnya kala mereka yang mengaku orang-orang dewasa kembali memainkan angka. Sepak bola kembali menjadi sekadar angka. Beberapa petinggi partai politik berusaha mengendarai olah raga massa ini.
Mereka berusaha mendompleng ‘panggung’ baru yang layak dijual, timnas. Jelas ada hitung-hitungan angka dari mereka. Hitung-hitungan—minimal popularitas—pada Pemilu 2014 nanti.
Target harus juara pun dibebankan pada para pemain. Angka-angka baru dimunculkan. Bonus sekian miliar. Hibah tanah sekian hektare. Dan segala tetek-bengek angka yang tak ada kaitannya dengan kegembiraan bermain bola.
Ketika kegembiraan dihilangkan, apa yang kemudian mencuat? Tentu saja kesedihan. Kekalahan 0-3 Indonesia atas Malaysia di leg pertama final adalah kesedihan yang tersurat. Terlepas dari ‘kecurangan’ Malaysia, para pemain timnas tak bisa main lepas.
Firman terlihat tegang, tak ada senyuman seperti di babak penyisihan. Okto hanya berlari-lari, tak bisa lagi menari-nari. Pemain lainnya terpaku untuk membuat angka, membuka skor, bukan bermain lepas untuk merintis lahirnya sebuah gol.
Beban angka semakin terasa jelang leg kedua final. Butuh kemenangan 4-0 atau 5-1, atau lebih dari itu untuk menjadi juara. Tapi sekali lagi, sepak bola seharusnya tak melulu tentang angka. Para pemain semestinya menendang bola dengan gembira, tanpa tekanan. Mereka bebas menumpahkan segala kepiawaiannya di lapangan hijau selayaknya anak-anak kecil yang tertawa riang saat memainkan bola.
Kalah menang adalah soal biasa. Tapi permainan cantik dan atraktif akan tetap dikenang, sementara para juara kadang hanyalah sebatas deretan angka dalam statistik.
Belanda tak pernah juara Piala Dunia, tapi permainan total football tim ‘Oranye’ hingga final Piala Dunia 1974 dan 1978 begitu membekas dan sulit dilupakan. Begitu pula timnas Hungaria yang menyuguhkan permainan indah di Piala Dunia 1954. Mereka tetap dikenang sebagai tim terbaik di masanya. Mereka memberikan kegembiraan bagi para penggila bola. Mereka adalah juara tanpa mahkota.
Terlepas kegagalan Indonesia menjadi juara di Piala AFF, para pemain Indonesia semestinya tetap memberi keceriaan. Tendang jauh-jauh deretan angka-angka yang membebani. Buang angka-angka yang terus membebani hidup. Hari ini atau esok, tetaplah gembira saat memainkan bola dan tularkan kebahagiaan itu bagi seluruh rakyat Indonesia. Bebaskan semuanya dengan menendang bola.








0 Responses So Far: